May 26, 2012

TIM WAE REBO POWER

VIDOUR-PALAPA

Site Survey COMING SOON on JULY

May 4, 2012
Arsitek 4 Dekade #2
Han Awal

Arsitek 4 Dekade #2

Han Awal

May 4, 2012

awawchan:

selimut untuk monitor kantor biar ga kedinginan dimalam hari :’)

sengaja ga simetris, biar keliatan handmade nya *pembelaan*

April 29, 2012

April 25, 2012

Kegiatan menarik minggu ini ialah menginspirasi anak-anak SD dengan profesi yang sama sekali mereka belum pernah dengar. Saya diberi kesempatan melalui Kelas Inspirasi untuk menginspirasi murid SD 01 Duri Pulo dengan profesi sebagai video maker.

semoga mereka mampu membuat film penuh fantasi dan imajinasi di masa depan.

Adi 

April 21, 2012
Vidour bersama Pak Deddy Wahjudi dan Sang Arsitek Salman Pak Achmad Noe’man
#Arsitek 4 Dekade

Vidour bersama Pak Deddy Wahjudi dan Sang Arsitek Salman Pak Achmad Noe’man

#Arsitek 4 Dekade

April 18, 2012
panel diskusiMETODE MASA KINI KONSERVASI BANGUNAN
Dpl. Ing Han Awal, IAIIr. Febriyanti SuryaningsihPengantar Konservasi Bangunan
Dr. Ir. Deni Suwandi, MT.KK-INSIG FITB ITBPhotogrammetry
Ir. Arya Abieta, IAI3D Scanning Terrestrial
SENIN 23 APRIL 201215.00 - 17.00
Labtek IXBGaleri Arsitektur ITBJl. Ganeca 10, Bandung
Pendaftaran16-20 April 2012Sekertariat Prodi Arsitektur ITB Lt-2Elya : 081322325152elya.bukit@yahoo.comMahasiswa* Rp 25.000Umum Rp 50.000 
*non ITB

panel diskusi
METODE MASA KINI KONSERVASI BANGUNAN

Dpl. Ing Han Awal, IAI
Ir. Febriyanti Suryaningsih
Pengantar Konservasi Bangunan

Dr. Ir. Deni Suwandi, MT.
KK-INSIG FITB ITB
Photogrammetry

Ir. Arya Abieta, IAI
3D Scanning Terrestrial

SENIN 23 APRIL 2012
15.00 - 17.00

Labtek IXB
Galeri Arsitektur ITB
Jl. Ganeca 10, Bandung


Pendaftaran
16-20 April 2012
Sekertariat Prodi Arsitektur ITB Lt-2
Elya : 081322325152
elya.bukit@yahoo.com

Mahasiswa* Rp 25.000
Umum Rp 50.000 

*non ITB

April 17, 2012

April 17, 2012

March 28, 2012
Demo penolakan kenikan BBM bertebaran seantero Indonesia. Kami pun ikut berdemo, berdemo dengan gaya kami sendiri.
Bentuk protes kami yaitu, mencoba untuk membantu warga Wae Rebo untuk mengubah ketergantungan dari energi bahan bakar fosil menjadi energi lokal seperti air. Mata air melimpah di Wae Rebo, wae sendiri berarti air dalam bahasa manggarai. Riset awal kami lakukan dengan berkolaborasi bersama teman-teman dari  Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ITB. Mereka cukup berpengalaman dalam pengadaan energi mandiri untuk desa desa pelosok. 
Ide ini muncul ketika saya dan Ronaldiaz bertugas ke Wae Rebo - P.Flores. Wae Rebo desa pelosok hutan memang tidak memiliki pasokan listrik dari negara. Kebanyakan desa di sana pun bernasib serupa, maka masyarakat  berinisiatif untuk mennggunakan diesel/genset untuk menerangi desa. Namun Wae Rebo memiliki nasib yang sedikit berbeda, mereka harus menggotong solar sebanyak 5 L sejauh 9 km setiap minggu nya untuk menyalakan genset berukuran 5000 watt. Biaya angkut nya saja 50 ribu rupiah sehingga setiap liternya bisa mencapai Rp 14.500. Untungnya mereka mengagkut sendiri bensin tersebut secara bergantian sesuai piket yang telah diatur Lembaga Pariwisata Wae Rebo (Koperasi Desa Wae Rebo) sehingga biaya angkut tidak mereka cantumkan.
5.000 watt itu bisa menerangi satu desa yang terdiri dari 17 rumah 35 Kepala Keluarga (KK). Jika dibandingkan dengan rata-rata rumah di perkotaan, energi sebesar itu hanya mampu menerangi 2-3 rumah sederhana. Mereka pun menggunakan energi ini ketika malam hari, untuk penerangan dan mengisi ulang batre HP. Terkadang ketika acara Penti (syukuran tahun baru) mereka gunakan listrik sebagai penunjang sarana ibadah seperti pengeras suara. 
Kondisi listrik di Flores cukup memperihatinkan. PLN gagal memenuhi target untuk mengaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di akhir tahun 2011. Namun seandainya PLTP Ulumbu ini sudah beroprasi tentunya Wae Rebo tetap tidak akan menerima manfaatnya karena terkendala lokasi. Naiknya BBM pastinya akan membebani mereka untuk menyuplai energi.
Masih panjang proses yang ditempuh untuk merealisasikan ide ini. 2 bulan awal memang belum banyak gerakan yang signifikan. Kami harus melengkapi data untuk menentukan kelayakan ide ini. Namun, apabila ide ini terealisasi, Wae Rebo merupakan desa adat pertama yang mandiri secara energi. 
Mohe Wae Rebo
tulisan /Adi   Foto/Adi

Demo penolakan kenikan BBM bertebaran seantero Indonesia. Kami pun ikut berdemo, berdemo dengan gaya kami sendiri.

Bentuk protes kami yaitu, mencoba untuk membantu warga Wae Rebo untuk mengubah ketergantungan dari energi bahan bakar fosil menjadi energi lokal seperti air. Mata air melimpah di Wae Rebo, wae sendiri berarti air dalam bahasa manggarai. Riset awal kami lakukan dengan berkolaborasi bersama teman-teman dari  Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ITB. Mereka cukup berpengalaman dalam pengadaan energi mandiri untuk desa desa pelosok. 

Ide ini muncul ketika saya dan Ronaldiaz bertugas ke Wae Rebo - P.Flores. Wae Rebo desa pelosok hutan memang tidak memiliki pasokan listrik dari negara. Kebanyakan desa di sana pun bernasib serupa, maka masyarakat  berinisiatif untuk mennggunakan diesel/genset untuk menerangi desa. Namun Wae Rebo memiliki nasib yang sedikit berbeda, mereka harus menggotong solar sebanyak 5 L sejauh 9 km setiap minggu nya untuk menyalakan genset berukuran 5000 watt. Biaya angkut nya saja 50 ribu rupiah sehingga setiap liternya bisa mencapai Rp 14.500. Untungnya mereka mengagkut sendiri bensin tersebut secara bergantian sesuai piket yang telah diatur Lembaga Pariwisata Wae Rebo (Koperasi Desa Wae Rebo) sehingga biaya angkut tidak mereka cantumkan.

5.000 watt itu bisa menerangi satu desa yang terdiri dari 17 rumah 35 Kepala Keluarga (KK). Jika dibandingkan dengan rata-rata rumah di perkotaan, energi sebesar itu hanya mampu menerangi 2-3 rumah sederhana. Mereka pun menggunakan energi ini ketika malam hari, untuk penerangan dan mengisi ulang batre HP. Terkadang ketika acara Penti (syukuran tahun baru) mereka gunakan listrik sebagai penunjang sarana ibadah seperti pengeras suara. 

Kondisi listrik di Flores cukup memperihatinkan. PLN gagal memenuhi target untuk mengaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di akhir tahun 2011. Namun seandainya PLTP Ulumbu ini sudah beroprasi tentunya Wae Rebo tetap tidak akan menerima manfaatnya karena terkendala lokasi. Naiknya BBM pastinya akan membebani mereka untuk menyuplai energi.

Masih panjang proses yang ditempuh untuk merealisasikan ide ini. 2 bulan awal memang belum banyak gerakan yang signifikan. Kami harus melengkapi data untuk menentukan kelayakan ide ini. Namun, apabila ide ini terealisasi, Wae Rebo merupakan desa adat pertama yang mandiri secara energi. 

Mohe Wae Rebo

tulisan /Adi   Foto/Adi

Liked posts on Tumblr: More liked posts »