TIM WAE REBO POWER
VIDOUR-PALAPA
Site Survey COMING SOON on JULY
TIM WAE REBO POWER
VIDOUR-PALAPA
Site Survey COMING SOON on JULY
selimut untuk monitor kantor biar ga kedinginan dimalam hari :’)
sengaja ga simetris, biar keliatan handmade nya *pembelaan*
Kegiatan menarik minggu ini ialah menginspirasi anak-anak SD dengan profesi yang sama sekali mereka belum pernah dengar. Saya diberi kesempatan melalui Kelas Inspirasi untuk menginspirasi murid SD 01 Duri Pulo dengan profesi sebagai video maker.
semoga mereka mampu membuat film penuh fantasi dan imajinasi di masa depan.
Adi
panel diskusi
METODE MASA KINI KONSERVASI BANGUNAN
Dpl. Ing Han Awal, IAI
Ir. Febriyanti Suryaningsih
Pengantar Konservasi Bangunan
Dr. Ir. Deni Suwandi, MT.
KK-INSIG FITB ITB
Photogrammetry
Ir. Arya Abieta, IAI
3D Scanning Terrestrial
SENIN 23 APRIL 2012
15.00 - 17.00
Labtek IXB
Galeri Arsitektur ITB
Jl. Ganeca 10, Bandung
Pendaftaran
16-20 April 2012
Sekertariat Prodi Arsitektur ITB Lt-2
Elya : 081322325152
elya.bukit@yahoo.com
Mahasiswa* Rp 25.000
Umum Rp 50.000
*non ITB
Demo penolakan kenikan BBM bertebaran seantero Indonesia. Kami pun ikut berdemo, berdemo dengan gaya kami sendiri.
Bentuk protes kami yaitu, mencoba untuk membantu warga Wae Rebo untuk mengubah ketergantungan dari energi bahan bakar fosil menjadi energi lokal seperti air. Mata air melimpah di Wae Rebo, wae sendiri berarti air dalam bahasa manggarai. Riset awal kami lakukan dengan berkolaborasi bersama teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ITB. Mereka cukup berpengalaman dalam pengadaan energi mandiri untuk desa desa pelosok.
Ide ini muncul ketika saya dan Ronaldiaz bertugas ke Wae Rebo - P.Flores. Wae Rebo desa pelosok hutan memang tidak memiliki pasokan listrik dari negara. Kebanyakan desa di sana pun bernasib serupa, maka masyarakat berinisiatif untuk mennggunakan diesel/genset untuk menerangi desa. Namun Wae Rebo memiliki nasib yang sedikit berbeda, mereka harus menggotong solar sebanyak 5 L sejauh 9 km setiap minggu nya untuk menyalakan genset berukuran 5000 watt. Biaya angkut nya saja 50 ribu rupiah sehingga setiap liternya bisa mencapai Rp 14.500. Untungnya mereka mengagkut sendiri bensin tersebut secara bergantian sesuai piket yang telah diatur Lembaga Pariwisata Wae Rebo (Koperasi Desa Wae Rebo) sehingga biaya angkut tidak mereka cantumkan.
5.000 watt itu bisa menerangi satu desa yang terdiri dari 17 rumah 35 Kepala Keluarga (KK). Jika dibandingkan dengan rata-rata rumah di perkotaan, energi sebesar itu hanya mampu menerangi 2-3 rumah sederhana. Mereka pun menggunakan energi ini ketika malam hari, untuk penerangan dan mengisi ulang batre HP. Terkadang ketika acara Penti (syukuran tahun baru) mereka gunakan listrik sebagai penunjang sarana ibadah seperti pengeras suara.
Kondisi listrik di Flores cukup memperihatinkan. PLN gagal memenuhi target untuk mengaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di akhir tahun 2011. Namun seandainya PLTP Ulumbu ini sudah beroprasi tentunya Wae Rebo tetap tidak akan menerima manfaatnya karena terkendala lokasi. Naiknya BBM pastinya akan membebani mereka untuk menyuplai energi.
Masih panjang proses yang ditempuh untuk merealisasikan ide ini. 2 bulan awal memang belum banyak gerakan yang signifikan. Kami harus melengkapi data untuk menentukan kelayakan ide ini. Namun, apabila ide ini terealisasi, Wae Rebo merupakan desa adat pertama yang mandiri secara energi.
Mohe Wae Rebo
tulisan /Adi Foto/Adi