Berbicara tentang Rem Koolhaas berarti berbicara tentang betapa dunia adalah sebuah paradoks budaya, dimana hitam bisa menjadi cahaya dan salah adalah lumrah bagi manusia sekelas dewa.
Beropini tentang Rem Koolhaas hanya berdasarkan satu kali kuliah dan dua kali berjabat tangan sama saja dengan berspekulasi bahwa matahari terbit di barat dan tenggelam di timur, hanya karena mungkin kita lupa cara membedakan kanan dan kiri.
Satu hal yang mungkin sedikit lebih pasti dari ketidakpastian yang selalu kita jumpai sehari-hari, adalah bahwa beliau lahir lebih dulu dari kita, telah menyicipi lebih dari separuh belahan dunia, dan menghayatinya.
Dan beliau bilang, “Buang waktumu, anak muda.”
Karena bisa jadi hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa benar-benar menghargai setiap sudut pandang dan setiap keputusan yang dicetuskan oleh orang-orang yang mungkin tidak lebih baik dari kita, tapi berani mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Berani beresiko tanpa takut jatuh;
karena gravitasi memang sebuah kodrat, dan bisa bangkit adalah nikmat yang tak bisa didapat jika kita terus berdiri tegak. Walau itu berarti diam dan tak melakukan apa-apa.
*
Sampai jumpa hari Minggu,
Pada diskusi-diskusi yang membuang waktu,
Yang seharusnya bisa diisi dengan memuaskan klien-klien yang mungkin buta oleh estetika harta.
Ditulis oleh Rofianisa/Vidour untuk JongSinema: OMA Public Lecture Video Presentation
-
heizha reblogged this from vidour
-
qamidala liked this
-
pkhrisnoa reblogged this from vidour
-
youandmewearefriends liked this
-
arief reblogged this from vidour
-
hollaandholga reblogged this from vidour
-
hollaandholga liked this
-
vidour posted this